ESTIMASI HARGA POKOK PRODUKSI PRESSURE VESSEL DENGAN METODE JOB ORDER COSTING (Studi Kasus PT.Barata Indonesia)

ESTIMATED COST OF PRODUCTION WITH JOB ORDER COSTING METHOD

Anggraini Pramitaningrum (6612040026)


Abstrak

ESTIMASI HARGA POKOK PRODUKSI PRESSURE VESSEL DENGAN METODE JOB ORDER COSTING (studi kasus PT.Barata Indonesia, Gresik) Nama / NRP : Anggraini Pramitaningrum / 6612040026 Pembimbing : 1. Renanda Nia R, ST., MT 2. Rahandini Lukita L, S.Si., M.Si., M.Sc ABSTRAK PT.Barata Indonesia (persero) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi khususnya divisi PIB memproduksi Pressure Vessel dengan berbagai jenis dan fungsi. Pada saat proses produksi berlangsung banyak faktor yang membuat dana yang digunakan menjadi tidak sesuai dengan RAB (Rencana Anggaran Biaya). Hal tersebut dikarenakan pada tahap perencanaan penentuan harga pokok produksi yang kurang efektif sehingga masih terdapat ketidaksesuaian dengan realisasi biayanya. Berdasarkan sistem kerja yang digunakan pada PT.Barata Indonesia (persero) adalah Job Order maka metode Job Order Costing dapat diterapkan dalam estimasi harga pokok produksi dengan mengkalkulasikan biaya produksi seperti directcost, indirectcost dan biaya overhead yang dibebankan untuk produk yang dipesan. Harga jual juga dapat diketahui melalui biaya HPP yang dijumlahkan dengan prosentase laba yang diinginkan. Harga pokok produksi pressure vessel yang ditetapkan oleh perusahaan kurang dari seharusnya(undercosting). HPP berdasarkan metode job order costing untuk setiap unit dari ke empat tipe pressure vessel sebesar Rp1.321.998.471 untuk tipe Instrument Air Receiver, Rp1.210.431.853 untuk tipe Nitrogen Air Buffer, Rp945.542.028 untuk tipe Nitrogen Receiver dan Rp1.324.594.236 untuk tipe Wet Air Receiver. Sedangkan menurut perusahaan sebesar Rp 1.230.095.311 untuk instrument Air Receiver, Rp 1.107.534.450 untuk Nitrogen Air Buffer, Rp 749.705.580 untuk Nitrogen Receiver dan Rp 1.234.468.428 Wet Air Receiver. Selisih dari kedua HPP tersebut sebesar sebesar Rp 91.903.160 untuk instrument Air Receiver, Rp 102.897.403 untuk tipe Nitrogen Air Buffer, Rp 195.836.448 untuk Nitrogen Receiver dan Rp 90.125.808 untuk tipe Wet Air Receiver. Terdapat selisih komponen biaya yang disebabkan oleh adanya komponen biaya yang bersifat tetap dan tidak dipengaruhi oleh kuantitas sehingga Jumlah produk yang diproduksi dapat berpengaruh terhadap biaya yang dikeluarkan. Kata kunci : Job Order Costing, Overhead, Indirect Cost, Direct Cost.


Abstract

ESTIMATED COST OF PRODUCTION PRESSURE VESSEL WITH JOB ORDER COSTING (Study case in PT.Barata Indonesia,Gresik) Name / NRP : Anggraini Pramitaningrum / 6612040026 Advisor : 1. Renanda Nia R, ST., MT 2. Rahandini Lukita L, S.Si., M.Si., M.Sc ABSTRACT Barata Indonesia (persero) is a company engaged in the field of construction. At PIB division produce various kind and fungtion of pressure vessel. At the time of the production process there are problems. The problem is funds used not in accordance with the budget plan. It can cause the process of determining the cost of production is less effective so that there is a mismatch with budget plan. Based system works as Barata Indonesia is a job order so the job order costing method can be applied to estimate the cost of production by calculating the cost of production as direct cost, indirect cost and overhead cost for charge the ordered products. Selling price can also be seen throughtthe cost of production plus a precentage of profit. The pressure vessel production cost price set by the company was undercosting. Cost of production is calcuated based on job order costing method for each unit of each type Rp1.321.998.471 for Instrument Air Receiver type, Rp1.210.431.853 for Nitrogen Air Buffer, Rp945.542.028 for Nitrogen Receiver and Rp1.324.594.236 for Wet Air Receiver type. While according to the compan?s cost of production for each unit amound Rp 1.230.095.311 for instrument Air Receiver, Rp 1.107.534.450 for Nitrogen Air Buffer, Rp 749.705.580 for Nitrogen Receiver and Rp 1.234.468.428 Wet Air Receiver. Both cost of production fromthe company and cost production based job order codting has a difference cost f Rp 91.903.160 for instrument Air Receiver, Rp 102.897.403 for Nitrogen Air Buffer type, Rp 195.836.448 for Nitrogen Receiver and Rp 90.125.808 for Wet Air Receiver type. It can happens because there is the cost component is fixed and the cost component is not affected by quantity so the number of manufacturing order can affect the cost of production Key word : Job Order Costing, Overhead, Indirect Cost, Direct Cost.


Detil Peneliti

Dosen Pembimbing 1 :Renanda Nia R
Dosen Pembimbing 2 : Rahandini Lukita Lestari

Program Studi : D4 - TEKNIK DESAIN DAN MANUFAKTUR
Angkatan : 2012


Untuk mendapatkan versi full dari dokumen penelitian ini, Anda dapat melihat koleksi Buku Tugas Akhir di Perpustakaan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya pada jam kerja. Atau Anda dapat menghubungi penulis secara personal.