PENENTUAN TARGET SAFETY INTEGRITY LEVEL (SIL) DENGAN MENGGUNAKAN METODE LAYER OF PROTECTION ANALYSIS (LOPA) PADA PLANT THERMAL DE ASHPLATING (TDA) DI PT. X INDONESIA

DETERMINING OF SAFETY INTEGRITY LEVEL( SIL) TARGET USING LAYER OF PROTECTION ANALYSIS (LOPA) METHOD ON THERMAL DE ASPHLATING ( TDA ) UNIT IN PT X INDONESIA

Patut T. Parulian Butar-Butar (6511040069)


Abstrak

PT.X INDONESIA merupakan sebuah perusahaan yang mengelola oli atau pelumas bekas (used oil) untuk menjadi oli baru. Pada perusahaan ini terdapat 3 macam proses produksi yaitu proses preflash, proses Thermal De Asphlating (TDA), dan proses terahir adalah proses Hydrofinishing. Proses kedua yaitu TDA merupakan proses yang memiliki resiko yang tinggi, karena proses pada TDA banyak dilakukan dalam suhu dan tekanan yang tinggi, sehingga kemungkinan terjadi kecelakaan kerja sangat tinggi pula. Oleh sebab itu sebuah sistem keselamatan harus diterapkan pada unit TDA dengan melakukan analisis penentuan SIL (Safety Integrity Level) untuk mengetahui kecukupan lapisan perlindung di unit TDA . Penelitian ini menggunakan metode LOPA (Layer of Protection Analysis) untuk menentukan nilai SIL (Safety Integrity Level) yang dibutuhkan dalam suatu unit proses. Sebelumnya dibutuhkan metode quantitative HAZOP (Hazards and Operability) untuk mengetahui deviasi bahaya proses dan menentukan tingkatan resiko dari bahaya suatu proses, kemudian tingkatan resiko tersebut akan ditransformasikan kedalam LOPA. Mertode LOPA digunakan untuk menilai kecukupan lapisan pelindung dan memitigasi resiko proses. Perhitungan nilai IEL (Intermediate Event Likelihood) terhadap TMEL (Targer Mitigated Event Likelihood) diperlukan untuk mengetahui nilai lapisan pelindung dalam memitigasi resiko. Apabila nilai IELt lebih besar dibandingkan TMEL, penambahan lapisan pelindung berupa SIL diperlukan. Dari penelitian ini terdapat 4 skenario yang ditransformasikan kedalam LOPA yaitu skenario pada study node 1 Ref 1.4 nilai IELt adalah sebesar 5x10-6 < dari TMEL yaitu 1x10-5 sehingga rasio LOPA ? 1 (IPLs yang ada sudah mencukupi untuk mitigasi resiko). Ref 1.7 nilai IELt sebesar 5x10-5 > nilai TMEL 1x10-5 dan terdapat SIF sebagai IPL sehingga diperlukan untuk menentukan nilai SIL yang dibutuhkan yaitu SIL 0. Study node 2 Ref 2.2 nilai dari IELt sebesar 5x10-6 < TMEL sebesar 1x10-5 sehingga rasio LOPA ? 1 (IPLs yang ada sudah mencukupi untuk mitigasi resiko). Study node 10 Ref 10.2 nilai IELt sebesar 5x10-5 > TMEL sebesar 1x10-5 dan tidak terdapat SIF maka lapisan-lapisan pelindung yang ada dianggap tidak memadai untuk mitigasi resiko. Maka diperlukan untuyk menambahkan lapisan pelindung atau menambahkan SIF. Kata Kunci : HAZOP, LOPA, SIL, SIL


Abstract

PT.X INDONESIA is a company that manages the oil or used oil (used oil) to become the new oil. At this company there are three kinds of production processes the process are preflash, the Thermal De Asphlating (TDA), and the last process is the process Hydrofinishing. The second process is the TDA is a process that has a high risk, because in the TDA process done in a high temperature and pressure, so the possibility of workplace accidents is very high. Therefore a safety system must be applied to the TDA unit by analyzing the determination of SIL (Safety Integrity Level) to determine the adequacy of protection layer in TDA unit. This study uses Lopa (Layer of Protection Analysis) to determine the value of SIL (Safety Integrity Level) that is required in a process unit. Previous quantitative methods are needed HAZOP (Hazards and Operability) to determine the deviation of the dangers of the process and determine the level of risk from the dangers of a process, then the risk level will be transformed into Lopa. Lopamethod used to assess the adequacy of the protective layer and mitigate the risk of the process. Calculation of the value of IELT (Intermediate Event Likelihood ) against TMEL (targer mitigated Event Likelihood) is required to determine the value of the protective layer in mitigating risk. If the value of IEL greater than TMEL , adding a protective layer in the form of SIL required From this study, there are four scenarios are transformed into Lopa that scenario on study node 1 Ref 1.4 IEL value is equal to 5x10-6 TMEL value 1x10-5 and SIF as the IPL so there is needed to determine the value of the required SIL namely SIL 0. Study node 2 Ref 2.2 of IEL value of 5x10-6 TMEL of 1x10-5 and hence there is no SIF-layer protective coating that is considered inadequate for risk mitigation. It is necessary to add a protective layer or adding SIF. Key Word : HAZOP, LOPA, SIL, SIF


Detil Peneliti

Dosen Pembimbing 1 :Priyo Agus Setiawan
Dosen Pembimbing 2 : Galih Anindita

Program Studi : D4 - TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Angkatan : 2011


Untuk mendapatkan versi full dari dokumen penelitian ini, Anda dapat melihat koleksi Buku Tugas Akhir di Perpustakaan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya pada jam kerja. Atau Anda dapat menghubungi penulis secara personal.