Efektivitas Pengaktifan Electrical Trace Heating pada Bag Filter 547BF05 di Pabrik Semen

Efectiveness Activation of Electrical Trace Heating on the Bag Filter 547BF05 in Cement Factory

Ima Wigih Kiswahyu (6413030033)


Abstrak

Pabrik semen ini menerapkan teknologi produksi semen proses kering yang dibedakan menjadi 5 tahap. Tahap tersebut meliputi: penyiapan bahan baku, penggilingan awal, pembakaran, penggilingan akhir, pengantongan dan pengangkutan. Pada tahap penggilingan akhir (Finish/Cement Mill) menghasilkan produk semen yang memiliki ukuran bubuk dengan nilai blaine Portland Pozzoland Cement (PPC) 350m2/kg dan Ordinary Portland cement (OPC) 340m2/kg. Bubuk semen ini kemudian dipindahkan dengan dorongan udara mengalir menuju Bag Filter 547BF05; dimana udara tersebut mengalir ke lingkungan sementara bubuk semen terperangkap kantong-kantong filter tersebut. Secara berkala, sistem cleaning jet pulse pada bag filter menyebabkan bubuk semen rontok ke Dust Collector Chamber (DCC). Sebagai konsekuensi, sebagian udara terbawa aliran bubuk semen masuk ke DCC; dan dimungkinkan uap air yang terkandung dalam udara (kelembaban) mengalami kondensasi ketika temperatur DCC sama dengan atau lebih rendah dari 56oC. Untuk menjaga temperatur pada DCC 20oC di atas temperature kondensasi (76oC) maka dilengkapi elemen pemanas yang disebut Electrical Trace Heating (ETH). Penelitian pada Tugas Akhir (TA) ini menggunakan data operasional tiga shift selama dua bulan untuk mengidentifikasi efektifitas kerja ETH pada DCC. Metode yang diterapkan adalah kajian data faktual (sekunder) yang diperoleh dari sistem data logger di CCR (Central Control Room). Analisis data kompilasi dilakukan dengan metode deskriptif didukung sejumlah grafik yang menggambarkan kecepatan kenaikkan dan penurunan temperatur (diukur dalam satuan jam) menjadi pertimbangan untuk mengevaluasi kerja thermostat; agar alat berkerja efektif. Fakta yang terukur dari tiga shift operasional (pagi, siang, malam) memperlihatkan ETH bekerja menghasilkan temperatur tertinggi 91oC. Ketika ETH tidak diopersionalkan (off), temperatur menurun hingga 34oC (dibawah temperatur kondensasi) sehingga diyakini terjadi problem kondensasi tersebut. Untuk menaikkan kembali temperatur dalam DCC, ETH bekerja selama 21 jam sehari untuk mencapai temperatur 85oC. Suhu operasi optimal yang didapat dalam studi kasus ini adalah 65oC dan 85oC berdasar pada energi listrik yang dikonsumsi. Kata Kunci: Efektivitas, Elecrical Trace Heating, Dust Collection Chamber


Abstract

Cement Factory applying the dry process cement production technology is divided into five stages. The stages include: preparation of raw materials, initial grinding, burning, end milling, packing and transporting. The result of end milling (Finish/Cement Mill) is a product which has a size of powdered cement with blaine value Pozzoland Portland Cement (PPC) 350m2/kg and Ordinary Portland Cement (OPC) 340m2/kg. Cement powder is then transferred to the drive of the air flowing toward the Bag Filter 547BF05; where the air is flowing into the environment while the cement powder trapped pockets of the filter. Periodically, pulse jet cleaning system on cement powder bag filter causing loss to Dust Collection Chamber (DCC). As a consequence, most of the air carried by the flow of cement powder go Cement Factory applying the dry process cement production technology is divided into DCC; and possible water vapor contained in the air (humidity) DCC condenses when the temperature is equal to or lower than 56oC. To cope, the DCC is equipped with a heating element which is called Electrical Trace Heating (ETH). The function of this tool is to keep the temperature 20oC above DCC condensation temperature (76oC). Research on Final Examination (TA) uses operational data in three shifts for two months to identify the effectiveness of ETH at DCC. The method applied is study of factual data (secondary) obtained from the system data logger in the CCR (central Contor Room). Analysis of the speed increase and decrease the temperature (measured in hour) into consideration to evaluate the work of the thermostat and determine alternative operational controller technology ETH; so that an effective working tool. The fact that measurable from operating three shifts (morning, afternoon, evening) showed ETH work producing the highest temperature 91oC . When ETH not diopersionalkan (off), the temperature dropped to 34oC (below the condensation temperature) so that the condensation problem is believed to occur. To raise the temperature in the DCC, ETH worked for 21 hours a day to reach temperatures of 85oC. The optimum operating temperature that obtained in this case study is 65oC and 85oC based on the electrical energy consumed. Keywords : Effectiveness, Elecrical Trace Heating, Dust Collection Chamber


Detil Peneliti

Dosen Pembimbing 1 :Rini Indarti
Dosen Pembimbing 2 :

Program Studi : D3 - TEKNIK KELISTRIKAN KAPAL
Angkatan : 2013


Untuk mendapatkan versi full dari dokumen penelitian ini, Anda dapat melihat koleksi Buku Tugas Akhir di Perpustakaan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya pada jam kerja. Atau Anda dapat menghubungi penulis secara personal.