PENGARUH KEKUATAN DALAM VARIASI SUSUNAN WOVEN ROFING DAN MAT PADA PROSES PEMBUATAN FIBER GLASS

THE STRENGTH?S EFFECT IN STRUCTURE VARIETY OF WOVEN ROFING AND MATT DURING THE MAKING PROCESS OF FIBER GLASS

Diki Mai Yuse (6213030020)


Abstrak

Fiberglass atau disebut juga dengan serat gelas merupakan material umum yang banyak dipergunakan sebagai material utama dalam pembuatan kapal dan bahan-bahan lainnya. Serat kaca ini diresapi dengan resin pada proses laminasi sehingga menjadi suatu bahan yang kuat dan tahan korosi. Seluruh produsen fiberglass melakukan proses laminasi sesuai dengan penyusunan mat dan WR pada umumnya untuk menghasilkan suatu material fiberglass baru. Sebelum melakukan proses laminasi, operator terlebih dahulu menentukan susunan laminasi sesuai dengan ketebalan yang diinginkan. Pengujian tarik pada material dilakukan menggunakan 2 sample spesimen yaitu spesimen dengan menggunakan laminasi non-variasi dan laminasi variasi pada peletakan mat dan WR nya. Keduanya dilaminasi dengan perbandingan 70:30. Perbandingan hasil uji tarik kemudian dibandingkan dengan standar BKI. Sedangkan proses pengujian tarik mengacu pada ASTM D-638 ?Standard Test Method for Tensile Properties of Plastics?. Kedua susunan laminasi memiliki kekuatan tarik yang telah memenuhi syarat BKI. Standar nilai tensile strength yang ditetapkan BKI adalah 1000 kg/cm2 atau 98,0665 MPa. Untuk spesimen dengan laminasi non-variasi memiliki Ultimate Tensile Strength sebesar 147,94 MPa, sedangkan spesimen dengan laminasi variasi memiliki Ultimate Tensile Strength 143,41 MPa. Spesimen dengan laminasi non-variasi memang memiliki nilai UTS lebih besar dibandingkan dengan spesimen laminasi dengan variasi peletakan mat dan WR, namun melakukan variasi susunan mat dan WR juga dapat dijadikan option saat melakukan proses pelapisan laminasi karena hasil uji tariknya masih memenuhi standar yang ditetapkan BKI.


Abstract

Fiberglass is a general composite material that usually being used as a common material for ship building and common things. The fiberglass is being absorbed with the resin during the lamination process so it goes into a tough and a corrosion-resistant material. All the producer of the fiberglass is doing the lamination process based on general matt and Woven Rofing (WR) structure to produce a brand new fiberglass material. Before doing the lamination process, operator needs to make sure the structure of the lamination based on the thickness. Tensile test for the material is using 2 samples of specimens, which is a non-varies lamination speciment and varies lamination speciment based on the structure of the matt and WR. The two specimens is being laminated with 70:30 comparasion. Then, the tensile test?s result is being compared with the BKI?s standard. Therefore, the tensile test process is based on ASTM D-638 ?Standard Test Method for Tensile Properties of Plastics?. Both lamination has a tensile strength results that passed the BKI?s standard. The standard value from BKI is 1000 kg/cm2 or as same as 98,0665 MPa. The non-varies specimen has Ultimate Tensile Strength 147,94 MPa, meanwhile the varies specimen has Ultimate Tensile Strength 143,41 MPa. Specimen with a non-varies lamination indeed has the more value of Ultimate Tensile Strength than the varies lamination specimen itself, but, doing a structure variety for the matt and WR also could being an option while doing the lamination process because the tensile test results still passed the BKI?s standard.


Detil Peneliti

Dosen Pembimbing 1 :Fathulloh
Dosen Pembimbing 2 :

Program Studi : D3 - TEKNIK BANGUNAN KAPAL
Angkatan : 2013


Untuk mendapatkan versi full dari dokumen penelitian ini, Anda dapat melihat koleksi Buku Tugas Akhir di Perpustakaan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya pada jam kerja. Atau Anda dapat menghubungi penulis secara personal.