PUTRA, DYFANO BELVA BUDIYONO (2026) ANALISIS PERBANDINGAN KONFIGURASI SAMBUNGAN MOORING CHAIN PADA SISTEM SINGLE POINT MOORING (SPM) 150.000 DWT MENGGUNAKAN METODE HYDRODYNAMIC DIFFRACTION. Diploma thesis, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.
|
Text
0722040068 - Dyfano Belva Budiyono Putra - Analisis Perbandingan Konfigurasi Sambungan _i_Mooring Chain__i_ pada Sistem _i_Single Point Mooring__i_ (SPM) 150.000 DWT Menggunakan Metode _i_Hydrodynamic Difraction__i_.pdf Download (2MB) |
Abstract
Peningkatan kapasitas SPM Balongan dari 12.500 DWT menjadi 150.000 DWT menimbulkan ketidaksesuaian jumlah antara chain stopper pada buoy body (4 unit) dan pile anchor (6 unit), sehingga diperlukan penggunaan triangle plate sebagai connecting link untuk mengakomodasi konfigurasi 6 dan 8 mooring line. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan tension pada tiga konfigurasi mooring line (4, 6, dan 8), mengevaluasi tegangan lokal yang terjadi pada triangle plate, serta menentukan konfigurasi yang paling layak berdasarkan kriteria safety factor.Analisis dilakukan melalui dua tahap utama. Tahap pertama berupa analisis Hydrodynamic Diffraction dan Hydrodynamic Response menggunakan ANSYS AQWA untuk memperoleh respons gerak struktur dan tension mooring line akibat beban gelombang ekstrem dengan periode ulang 100 tahun di perairan Balongan, Indramayu. Tahap kedua berupa analisis Finite Element Method menggunakan ANSYS Mechanical untuk mengevaluasi Equivalent (Von Mises) Stress pada triangle plate berbahan ASTM A36 dengan ketebalan 140 mm, pada masing-masing konfigurasi mooring line.Hasil analisis menunjukkan bahwa kondisi pembebanan kritis terjadi pada kondisi with tanker dengan arah datang gelombang 0°. Tension maksimum pada konfigurasi 4 mooring line tercatat sebesar 158.781,36 N pada Line 3, konfigurasi 6 mooring line sebesar 159.498,34 N pada Line 2, dan konfigurasi 8 mooring line sebesar 70.662,77 N pada Line 2. Analisis tegangan lokal pada triangle plate menghasilkan tegangan maksimum sebesar 2,3134 MPa pada Model 2 dan 11,99 MPa pada Model 3, jauh di bawah yield strength material ASTM A36 sebesar 250 MPa, sehingga seluruh konfigurasi memenuhi kriteria safety factor yang ditetapkan. Penambahan jumlah mooring line terbukti menghasilkan distribusi gaya tarik yang lebih merata, meskipun konfigurasi 8 mooring line menuntut relayout pile anchor dan penambahan triangle plate tambahan. Dengan mempertimbangkan distribusi gaya, keamanan struktur, serta efisiensi instalasi, konfigurasi 6 mooring line dinilai sebagai konfigurasi paling optimal untuk diterapkan pada sistem SPM Balongan berkapasitas 150.000 DWT.
| Item Type: | Thesis (Diploma) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Single Point Mooring (SPM), Mooring Chain, Triangle Plate, Hydrodynamic Diffraction, Tension Mooring line, Safety Factor, Tegangan Loka |
| Subjects: | TL - Teknik Pengelasan > Pengelasan (Welding) |
| Divisions: | Jurusan Teknik Bangunan Kapal > D4 Teknologi Rekayasa Konstruksi Perkapalan |
| Depositing User: | Unnamed user with email repository@ppns.ac.id |
| Date Deposited: | 24 Sep 2026 03:54 |
| Last Modified: | 24 Sep 2026 03:54 |
| URI: | http://repository.ppns.ac.id/id/eprint/8311 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
